Home / Inspirasi / Ujian Akhir, Satu Kisah Tentang Kepedulian
Ujian Akhir, Satu Kisah Tentang Kepedulian
Ujian Akhir, Satu Kisah Tentang Kepedulian

Ujian Akhir, Satu Kisah Tentang Kepedulian

Ini adalah kisah tentang salah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah semester akhir di sebuah Universitas Negeri ternama. Namanya Adam, dia mengambil jurusan disebuah fakultas yang cukup favorit, yaitu Fakultas Kedokteran. Menurut keyakinannya, serta orang tua dan keluarganya, fakultas inilah yang dapat membuat hidupnya lebih baik di masa mendatang. Bukan kehidupan yang hanya baik untuknya, tetapi juga untuk keluarganya yang telah berusaha susah payah mengumpulkan uang, agar ia dapat meneruskan sekolah dan lulus dari kuliahnya dengan baik.

Bahkan demi menyekolahkan Adam, kakak perempuannya pun rela untuk tidak menikah tahun ini, karena harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratorium serta praktikum yang cukup tinggi untuk Adam.

Setelah perjuangan yang panjang, belajar siang malam dengan giat, kini tiba saatnya Adam harus mengikuti ujian semester akhir, mata kuliah yang diberikan oleh dosennya cukup unik. Saat itu sang dosen ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan, dengan alasan agar sang dosen bisa lebih dekat dan akrab dengan mahasiswa.

Adam yang selalu belajar dengan rajin dan selalu mempersiapkan diri untuk ujian akhir semseter pun merasa percaya diri dan optimis bisa menghadapinya dengan lancar. Satu per satu pertanyaan pun dilontarkan oleh sang dosen,  para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sebaik mungkin dalam kertas ujian mereka, tak terkecuali Adam.

Ketakutan dan ketegangan Adam saat ujian terjawab saat itu, pasalnya 9 pertanyaan yang dilontarkan oleh sang dosen lumayan mudah untuk dijawab olehnya. Jawaban demi jawaban pun dengan lancar ia tuliskan di lembar jawabannya. Maklum saja, Adam benar-benar kerja keras dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh demi meraih apa yang dicita-citakannya.

Hingga sampailah pada pertanyaan ke-10, atau pertanyaan yang terakhir.“Ini pertanyaan yang terakhir. Perhatikan baik-baik!” kata dosen itu.

“Coba Anda tuliskan nama bapak tua yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung fakultas ini !” kata sang dosen sambil menggerakkan tangannya menunjuk keseluruh ruangan kuliah.

Mendengar perkataan sang dosen seperti itu, sontak saja mahasiswa seisi ruangan pun tersenyum dan tertawa kecil sampil saling menoleh ke bangku sampingnya. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, jelas saja pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini, pikir Adam dalam benaknya, yang munkin juga dipikirkan oleh mahasiswa lainnya.

Melihat reaksi para mahasiswanya, sang dosen pun menegaskan pertanyaannya itu. “Ini serius !” kata sang dosen yang sudah agak tua itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang, tidak baik! ”. lanjutnya mengingatkan.

Adam tahu persis siapa orang yang ditanyakan oleh dosennya itu. Dia adalah seorang bapak tua, orangnya agak pendek, rambut putih karena beruban. Dan ia juga mungkin satu-satunya cleaning service di gedung fakultas kedokteran tempat Adam kuliah. Bapak tua itu selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswi di sana. Ia senantiasa menundukkan kepalanya dan sedikit membungkuk saat melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang membuat Adam merasa konyol, justru ia tidak hafal nama bapak tua tersebut !!! Dan dengan terpaksa ia mengosongkan pertanyaan ke-10 ini. Ujian pun berakhir, satu per satu lembar jawaban pun dikumpulkan ke tangan dosen.

Sambil menyodorkan kertas jawaban, Adam mencoba memberanikan diri bertanya kepada dosennya kenapa sang dosen memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini.

“Maaf pak, soal pertanyaan yang terakhir, kenapa Anda memberi pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita? Apakah pertanyaan itu penting?” Tanya Adam.

Sang dosen kemudian menyuruh Adam kembali duduk ke bangkunya dan kemudian berkata: “Justru ini adalah pertanyaan terpenting dalam ujian kita kali ini” kata sang dosen.

Mendengar jawaban sang dosen, beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara. Beberapa mahasiswa mencoba memprotes namun langsung dipotong oleh sang dosen.

“Pertanyaan ini memiliki bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, jika Anda tidak mampu menjawabnya, sudah pasti nilai Anda hanya C atau D,” ungkap sang dosen.


Semua berdecak, Adam pun bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak? Tidak bisa begitu dong pak? Kan soal nomor 10 ini tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita?” Adam mencoba memprotes karena ia khawatir kerja kerasnya selama ini hanya akan mendapat nilai C atau bahkan D

Jawab sang  dosen itu sambil tersenyum, “Siapa bilang tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita, hanya mereka yang peduli pada orang-orang di sekitarnya saja yang pantas untuk menjadi dokter. Kalau seorang dokter tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia bisa menolong dan berguna bagi orang banyak? Jika Anda semua ada disini dengan tujuan bahwa hidup Anda akan menjadi lebih baik, dengan penghasilan yang besar sebagai dokter nantinya, itu adalah tujuan yang salah. Karena tujuan dokter adah untuk membantu orang-orang disekitarnya yang membutuhkan pertolongan mereka”

Lalu sang dosen pergi  membawa tumpukan kertas jawaban ujian itu sambil meninggalkan para mahasiswa dengan wajah yang masih tertegun.

Mendengar jawaban sang dosen, Adam dan rekan-rekannya pun tertunduk dan tampak menyadari apa yang disampaikan dosen mereka itu. Sejak saat itu pikiran Adam berubah, kini dia tidak lagi memiliki tujuan agar hidupnya enak setelah menjadi dokter, tapi dia memiliki cita-cita untuk berusaha keras membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

Dan pada akhirnya, Adam berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Dan cita-citanya untuk menjadi dokter pun tercapai. Bahkan Adam memilih untuk menjadi dokter dan bertugas di tempat-tempat pelosok dan terpencil. Ini semua karena dia telah disadarkan oleh sang dosen pada saat ujian waktu itu.

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai masalah di masyarakat. Dan peduli, sudah seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hanya dokter. Jadi, soal ujian nomor ke-10 di atas, kiranya juga menjadi soal ujian untuk kita semua. Maka seberapa pedulikah kita? Sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan yang ada disekitar kita. Semoga cerita di atas menjadi hikmah untuk kita.

Facebook Comments

About Hartanto

Check Also

Apakah Tuhan itu ada?

Apakah Tuhan Itu Ada?

Suatu waktu ada seorang pemuda, dia sangat pintar di bidang pengetahuan, mempunyai gelar dan jenjang …

2 Komentar

  1. pas baca diawal, pertanyaan ke 10 gak saya duga ada pesan moral yang sangat penting.. “hanya dia yang peduli dengan orang disekitarnya yang pantas jadi dokter” ;_;

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *