Home / Berita / Dunia / Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu
Ilustrasi Ibnu Hajar Al Asqalani

Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu

Cerdas atau pintar bukanlah kewajiban bagi kita sebagai manusia. Karena kewajiban bagi manusia adalah belajar. Tidak sedikit orang yang merasa putus asa karena telah belajar tentang suatu hal dalam kurun waktu yang cukup lama sampai bertahun-tahun namun belum menguasai apa yang dipelajarinya itu. Dan Kisah Ibnu Hajari Si Anak Batu ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mengalami hal seperti yang kami sebutkan di atas.

Ibnu Hajar Al Asqalani adalah seorang ulama dan ahli hadits dari mazhab Syafi’i yang terkemuka. Sejak kecil Ibnu Hajar telah menjadi seorang anak yatim piatu. Ayahnya meninggal pada saat Ibnu Hajar masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Setelah ayahnya meninggal Ibnu Hajar ikut dan diasuh oleh Az-Zaki Al-Kharubi (kakak tertua ibnu Hajar) sampai sang pengasuh meninggal. Hal itu dikarenakan sebelum ayahnya meninggal, sang ayah berwasiat kepada anak tertuanya yaitu saudagar kaya bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad Al-Kharubi (wafat tahun 787 H.) untuk menanggung dan membantu adik-adiknya. Begitu juga sang ayah berwasiat kepada syaikh Syamsuddin Ibnu Al-Qaththan (wafat tahun 813 H.) karena kedekatannya dengan Ibnu Hajar kecil.

Di bawah asuhan kakak kandungnya, Ibnu Hajar tumbuh menjadi anak yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani setiap kehidupannya serta memiliki kemandirian yang sangat tinggi. Berdasarkan riwayat, Ibnu Hajar Al Asqalani dilahirkan pada tanggal 22 Sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.

Sebenarnya Ibnu Hajar Al Asqalani memiliki nama asli Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun kemudian beliau lebih masyhur dengan julukan Ibnu Hajar Al Asqalani. Mengapa beliau mendapat julukan tersebut? Kisah perjalanan hidup beliau lah yang membuatnya mendapat julukan tersebut. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Ilustrasi Ibnu Hajar Al Asqalani

Rajin Tapi Bodoh

Pada akhir abad ke delapan hijriah dan pertengahan abad ke sembilan hijriah, adalah termasuk masa-masa keemasan Islam dalam hal ini adalah para ulama dan perkembangan madrasah, perpustakaan dan halaqah ilmu, walaupun terjadi keguncangan sosial politik pada saat itu. Hal ini disebabkan karena para penguasa pada saat itu memberikan perhatian yang sangat besar pada dunia pendidikan dengan mengembangkan madrasah-madrasah, perpustakaan dan memotivasi para ulama serta mendukung mereka dengan harta dan jabatan. Semua ini menjadi sebab berlombanya para ulama dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dengan pengajaran dan menulis karya-karya ilmiah dalam berbagai bidang keilmuan. Pada masa inilah muncul salah seorang ulama besar yang namanya harum hingga kini, yaitu Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Pada suatu ketika, saat Ibnu Hajar kecil masih belajar di sebuah madrasah, Ibnu Hajar terkenal sebagai murid yang rajin, namun demikian Ibnu Hajar juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya dalam hal pelajaran. Bahkan beliau sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan merasa frustasi. Ibnu Hajar mulai berfikir bahwa apa yang dilakukannya selama ini hanya sia-sia dan membuang-buang waktu saja.

Ibnu Hajar pun akhirnya memutuskan untuk pulang secara diam-diam dan meninggalkan sekolahnya itu karena Ibnu Hajar merasa putus asa setelah apa yang beliau pelajari selama di sekolah tidak membuatnya cukup pandai. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya. Hal ini memaksa Ibnu Hajar untuk berteduh di dalam sebuah gua di tengah hutan. Ketika berada di dalam gua tersebut, pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu. Melihat fenomena itu, Ibnu Hajar pun terkejut, pikiran dan hati Ibnu Hajar mulai terbuka. Beliau pun bergumam dalam hatinya, “Sungguh sebuah keajaiban”.

Melihat kejadian itu beliau pun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ibnu Hajar terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus dan tanpa henti. Dari peristiwa itu, seketika Ibnu Hajar tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia diasah secara terus menerus maka ia akan manjadi lunak. “Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.” Begitu pemikiran Ibnu Hajar setelah melihat kejadian di dalam gua tersebut.

Titik Balik

Sejak kejadian di dalam gua saat itu, semangat Ibnu Hajar pun kembali tumbuh, lalu beliau memutuskan untuk kembali ke sekolahnya dan menemui gurunya dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya dalam perjalanannya kembali ke rumah. Melihat semangat tinggi yang terpancar dari dalam jiwa Ibnu Hajar, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid di sekolah itu.

Sejak saat itu perubahan yang sangat drastis pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Dari semula dikenal sebagai murid yang bodoh dan selalu tertinggal pelajaran oleh teman-temannya, kini Ibnu Hajar manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal di jaman kita sekrang ini. Ibnu Hajar benar-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga beliau hafal beberapa kitab-kitab induk seperti Al-‘Umdah Al-Ahkaam karya Abdulghani Al-Maqdisi, Al-Alfiyah fi Ulum Al-Hadits karya guru beliau Al-Haafizh Al-Iraqi, Al-Haawi Ash-Shaghi karya Al-Qazwinir, Mukhtashar ibnu Al-Haajib fi Al-Ushul dan Mulhatu Al-I’rob serta yang lainnya.

Di antara karya Ibnu Hajar yang terkenal antara lain ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Buku Terjemahan Bulughul Maram Karya Ibnu Hajar AL-Asqalani
Buku Terjemahan Bulughul Maram Karya Ibnu Hajar AL-Asqalani

Bahkan menurut salah satu muridnya, yaitu Imam Asy-Syakhawi, karya Ibnu Hajar mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

Bidang keilmuan yang pertama kali beliau tekuni adalah meneliti kitab-kitab sejarah (tarikh) lalu banyak hafal nama-nama perawi dan keadaannya. Kemudian meneliti bidang sastra Arab dari tahun 792 H. dan menjadi pakar dalam syair.

Kemudian Ibnu Hajar memulai kesenangan dalam menuntut ilmu hadits dan dimulai sejak tahun 793 H. Namun beliau belum konsentrasi penuh dalam ilmu ini kecuali pada tahun 796 H. Di waktu itulah beliau konsentrasi penuh untuk mencari hadits dan ilmunya.

Saat ketidakpuasan dengan apa yang didapatkan, akhirnya Ibnu Hajar bertemu dan berguru kepada Al-Hafizh Al-Iraqi, yaitu seorang syaikh besar yang terkenal sebagai ahli fikih, salah satu orang yang paling tahu tentang madzhab Syafi’i. Disamping itu Al-Iraqi juga seorang yang mumpuni dalam penguasaan tafsir, hadits dan bahasa Arab. Ibnu Hajar berguru kepada Al-Iraqi selama kurang lebih sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam dan beberapa negara lainnya demi memenuhi hasratnya akan ilmu pengetahuan. Di tangan syaikh Al-Iraqi lah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin oleh Al-Iraqi untuk mengajarkan hadits. Sang guru memberikan gelar Ibnu Hajar dengan Al-Hafizh dan sangat dimuliakannya. Adapun setelah sang guru meninggal, Ibnu Hajar belajar dengan guru kedua yaitu Nuruddin Al-Haitsami, ada juga guru lain beliau yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih.

Ibnu Hajar juga melakukan rihlah (perjalanan menuntut ilmu) ke negeri Syam, Hijaz dan Yaman yang membuat ilmunya matang dalam usia muda hingga mayoritas ulama dizaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar.

Ibnu Hajar mengajar di Markaz Ilmiah yang banyak diantaranya mengajar tafsir di Al-madrasah Al-Husainiyah dan Al-Manshuriyah, mengajar hadits di Madaaris Al-Babrisiyah, Az-Zainiyah dan Asy-Syaikhuniyah dan lainnya. Membuka majlis Tasmi’ Al-hadits di Al-Mahmudiyah serta mengajarkan fikih di Al-Muayyudiyah dan selainnya.

Beliau juga memegang masyikhakh (semacam kepala para Syeikh) di Al-Madrasah Al-Baibrisiyah dan madrasah lainnya (Lihat Ad-Dhau’ Al-Laami’ 2/39).

Para Guru Ibnu Hajar Al Asqalani

Ibnu Hajar sangat memperhatikan dan menghormati para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:

  1. Al-Mu’jam Al-Muassis lil Mu’jam Al-Mufahris.
  2. Al-Mu’jam Al-Mufahris.

Imam As-Sakhaawi membagi guru beliau menjadi tiga klasifikasi:

  1. Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun hanya satu hadits.
  2. Guru yang memberikan ijazah kepada beliau.
  3. Guru yang beliau ambil ilmunya secara mudzkarah atau mendengar darinya khutbah atau karya ilmiahnya.

Guru Ibnu Hajar mencapai lebih dari 640an orang, sedangkan Ibnu Khalil Ad-Dimasyqi dalam kitab Jumaan Ad-Durar membagi para guru Ibnu Hajar dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang guru.

 

Diantara para guru Ibnu Hajar tersebut antara lain adalah seperti di bawah ini:

I. Bidang keilmuan Al-Qira’aat (ilmu Alquran):

  • Syeikh Ibrahim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwaan At-Tanukhi Al-Ba’li Ad-Dimasyqi (wafat tahun 800 H.) dikenal dengan Burhanuddin Asy-Syaami. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian Alquran, kitab Asy-Syathibiyah, Shahih Al-Bukhari dan sebagian musnad dan Juz Al-Hadits. Syeikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.

II. Bidang ilmu Fikih:

  1. Syeikh Abu Hafsh Sirajuddin Umar bin Ruslaan bin Nushair bin Shalih Al-Kinaani Al-‘Asqalani Al-Bulqini  Al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, haafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiah, diantaranya: Mahaasin Al-Ish-thilaah Fi Al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala Ar-Raudhah serta lainnya.
  2. Syeikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah Al-Anshari Al-Andalusi Al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu Al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: Al-I’laam Bi Fawaa`id ‘Umdah Al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) dan Takhrij ahaadits Ar-Raafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan Syarah Shahih Al-Bukhari dalam 20 jilid.
  3. Burhanuddin Abu Muhammad Ibrahim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnaasi  (725-782 ).

III. Bidang ilmu Ushul Al-Fikih :

  • Syeikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah Al-Kinaani Al-Hamwi Al-Mishri (Wafat tahun 819 H.) dikenal dengan Ibnu Jama’ah seorang faqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar Mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H. sampai 819 H.

IV. Bidang ilmu Sastra Arab :

  1. Majduddin Abu Thaahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar  Asy-Syairazi Al-Fairuzabadi (729-827 H.). seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
  2. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazaaq Al-Ghumaari 9720 -802 H.).

V. Bidang hadits dan ilmunya:

  1. Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrahim Al-Mahraani Al-Iraqi (725-806 H. ).
  2. Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaimanbin Abu Bakar bin Umar bin Shalih Al-Haitsami (735 -807 H.).

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, guru-guru Ibnu Hajar, antara lain:

  • Al-Iraqi, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
  • Al-Haitsami, seorang yang paling hafal tentang matan-matan.
  • Al-Ghimari, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab.
  • A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
  • Al-Ghifari, seorang yang hebat hafalannya.
  • Al-Abnasi, seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
  • Al-Izzu bin Jamaah, seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
  • At-Tanukhi, seorang yang terkenal dengan qira’atnya dan ketinggian sanadnya dalam qira’at.

Murid Ibnu Hajar Al Asqalani

Kedudukan dan ilmu Ibnu hajar yang sangat luas dan mendalam tentunya menjadi perhatian para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka berlomba-lomba mengarungi lautan dan daratan untuk dapat mengambil ilmu dari sang ulama Ibnu Hajar Al Asqalani. Oleh karena itu tidak heran jika kemudian tercatat lebih dari lima ratus murid beliau sebagaimana disampaikan murid beliau Imam As-Sakhawi.

Diantara murid-murid Ibnu Hajar yang terkenal antara lain adalah:

  1. Syeikh Ibrahim bin Ali bin Asy-Syeikh bin Burhanuddin bin Zhahiirah Al-Makki Asy-Syafi’i (wafat tahun 891 H.).
  2. Syeikh Ahmad bin Utsmaan bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karmaani Al-hanafi (wafat tahun 835 H.) dikenal dengan Syihabuddin Abul Fathi Al-Kalutaani seorang Muhaddits.
  3. Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan Al-Anshari Al-Khazraji (wafat tahun 875 H.) yang dikenal dengan Al-Hijaazi.
  4. Zakariya bin Muhammad bin Zakariya Al-Anshari wafat tahun 926 H.
  5. Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsmaan As-Sakhaawi Asy-Syafi’i wafat tahun 902 H.
  6. Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd Al-Hasyimi Al-‘Alawi Al-Makki  wafat tahun 871 H.
  7. Burhanuddin Al-Baqa’i, penulis kitab Nuzhum Ad-Dhurar fi Tanasub Al-Ayi wa As-Suwar.
  8. Ibnu Al-Haidhari.
  9. At-Tafi bin Fahd Al-Makki.
  10. Al-Kamal bin Al-Hamam Al-Hanafi.
  11. Qasim bin Quthlubugha.
  12. Ibnu Taghri Bardi, penulis kitab Al-Manhal Ash-Shafi.
  13. Ibnu Quzni.
  14. Abul Fadhl bin Asy-Syihnah.
  15. Al-Muhib Al-Bakri.
  16. Ibnu Ash-Shairafi.

Wafatnya Ibnu Hajar Al Asqalani

Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan perjuangan dan kegiatan ilmiah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar akhirnya jatuh sakit di rumahnya setelah beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jamadal Akhir tahun 852 H. Ibnu Hajar adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang karya ilmiah dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika beliau sakit yang membawanya kepada kematian, Ibnu Hajar berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.”

Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla’. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadhi bolak-balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan, kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Imam As-Sakhaawi berkata, “Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakit tha’un telah muncul.  Kemudian pada malam sabtu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 852 H. berselang dua jam setelah shalat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.”

Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar bagi manusia pada masa itu. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang non-muslim pun ikut meratapi kematian Ibnu Hajar. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung. Semua para pembesar dan pejabat kerajaan saat itu datang melayat dan bersama masyarakat yang begitu banyak menshalatkan jenazah Ibnu Hajar. Diperkirakan orang yang menshalatkan beliau lebih dari 50.000 orang dan Amirul Mukminin khalifah Al-Abbasiah mempersilahkan Al-Bulqini untuk menyalati Ibnu Hajar di Ar-Ramilah di luar kota Kairo. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Al-Qarafah Ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani Al-Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam Syafi’i dengan Syaikh Muslim As-Silmi.

Sanjungan Para Ulama Untuk Ibnu Hajar

Al-Hafizh As-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya, namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”

Al-Iraqi berkata, “Ia adalah syaikh, yang alim, yang sempurna, yang mulia, yang seorang muhhadits (ahli hadist), yang banyak memberikan manfaat, yang agung, seorang Al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin Asy-Syaikh, Al-Imam, Al-Alim, Al-Auhad, Al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh, yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai Al-Muwafaqat dan Al-Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dhaif, yang banyak menemui para ahli hadits,dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek.” Dan masih banyak lagi Ulama yang memuji dia, dengan kepandaian Ibnu Hajar.

Karya Ilmiah Ibnu Hajar Al Asqalani

Al-Haafizh Ibnu Hajar telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya dengan lisan, amalan dan tulisan. Beliau telah memberikan jasa besar bagi perkembangan beraneka ragam bidang keilmuan untuk umat ini.

Murid beliau yang ternama imam As-Sakhaawi dalam kitab Ad-Dhiya’ Al-Laami’ menjelaskan bahwa karya tulis beliau mencapai lebih dari 150 karya, sedangkan dalam kitab Al-Jawaahir wad-Durar disampaikan lebih dari 270 karya.

Tulisan-tulisan Ibnu Hajar, antara lain:

  • Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
  • An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
  • Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
  • Taghliq At-Ta’liq.
  • At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
  • Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
  • Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
  • Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
  • Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
  • Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
  • Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
  • Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
  • Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
  • Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
  • Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
  • Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
  • Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
  • Taqrib At-Tahdzib.
  • Tahdzib At-Tahdzib.
  • Lisan Al-Mizan.
  • Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
  • Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
  • Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
  • Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
  • Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
  • Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

 

Catatan:

Dari Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu ini kita belajar. Bahwa kesabaran dan ketulusan, konsistensi dalam melakukan sesuatu pasti akan menemukan jalannya dan akan membuahkan hasil. Tidak perduli seberapa sulit dan keras masalah yang kita hadapi, akan terselesaikan dengan kesabaran dan kesungguh-sungguhan dalam menjalaninya.

 

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia sendirilah yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ).

Facebook Comments

About Hartanto

Check Also

pengertian apa ransomware wannacry

Apa Itu WannaCRY Ransomware?

SIARAN PERS KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NO. 55/HM/KOMINFO/05/2017 Tentang Himbauan Agar Segera Melakukan Tindakan Pencegahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *