Home / Berita / Dunia / Ibnu Al Haitham, Ilmuwan Muslim Penemu Teori Dasar Kamera
Ilmuwan Islam penemu kamera Ibnu Al Haitham
Ilmuwan Islam penemu kamera Ibnu Al Haitham

Ibnu Al Haitham, Ilmuwan Muslim Penemu Teori Dasar Kamera

Anda suka dunia fotografi? Atau mungkin coba lihat smartphone atau ponsel Anda? Pasti sebagian besar ada kameranya bukan? Melalui bidikan kamera kita bisa mengabadikan berbagai moment penting dalam perjalanan kehidupan kita. Melalui kamera kita bisa mengenang masa-masa tak ternilai dalam hidup kita.

Tidak bisa dipungkiri memang, bahwa penemuan kamera memang merupakan salah satu penemuan terpenting yang dicapai peradaban umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia, binatang mikroba, hingga bintang-bintang di langit, serta galaksi di luar angkasa. Tapi tahukah Anda siapa penemu kamera? Teknologi pembuatan kamera saat ini memang dikuasai oleh peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak orang yang meyakini bahwa kamera berasal dari peradaban Barat.

Namun tahukah Anda? Jauh sebelum masyarakat Barat menemukan dan mengembangkan kamera, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan oleh seorang ilmuwan muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris muslim bernama Ibnu Al Haitham yang kemudian mendapat julukan sebagai “Bapak Optik Modern”.

Abu Ali Muhammad Al Hassan Ibnu Al Haitham (Bahasa Arab: ابو علی، حسن بن حسن بن الهيثم) atau Ibnu Haitham (Basra,965 – Kairo 1039),  adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, astronomi, dan filsafat. Ibnu Al Haitham banyak pula melakukan penelitian mengenai cahaya, dan telah memberikan banyak kontribusi untuk peradaban manusia saat ini dan telah menjadi inspirasi bagi ahli sains barat, seperti Roger Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Di dunia barat Ibnu Al Haitham lebih dikenal dengan nama Alhazen.

Sejarah telah banyak membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan begitu banyak sarjana dan ilmuwan yang sangat hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, astronomi, matematika, teknik dan lain sebagainya. Salah satu ciri yang dapat dilihat pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekadar dapat menguasai ilmu-ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan seperti misal Ibnu Sina (Avichena), dan Ibnu Hajar Al Asqalani.

Walaupun Haitham lebih dikenal dalam bidang sains dan pengobatan, tetapi beliau juga ahli dalam bidang agama, falsafah, dan astronomi.

Abu Ali Muhammad Al Hassan Ibnu Al Haitham, atau lebih dikenal Ibnu Haitham, dilahirkan di Basrah, Persia pada tahun 354 Hijriyah atau 965 Masehi, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah. Al Haitham memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintah ditempat kelahirannya. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah beberapa lama bekerja dipemerintahan, Ibnu Haitham pergi merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Dalam perjalanannya ke Ahwaz, Haitham muda menghasilkan beberapa karya tulis yang luar biasa. Di kedua kota itu Haitham menimba beragam macam ilmu pengetahuan.

Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, telah membawa Ibnu Al Haitham berhijrah ke Mesir. Selama di Mesir inilah Al Haitham melakukan beberapa penyelidikan dan penelitian mengenai aliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas ternama saat itu yaitu Universitas Al-Azhar. Akhirnya Al Haitham pun mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, beliau juga mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.

Haitham telah menjadi seo­rang yang mahir dalam bidang sains, falak, mate­matika, geometri, pengobatan, dan falsafah dalam usia muda. Tulisannya mengenai cara kerja mata manusia, telah menjadi salah satu referensi yang penting dalam bidang kajian sains di dunia barat. Teorinya mengenai pengobatan mata masih digunakan hingga saat ini di berbagai universitas di seluruh dunia.

Ilustrasi Ibnu Al Haitham Penemu Teori Dasar Kamera

Sains

Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penelitian. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler yang menciptakan mikroskop serta teleskop. Haitham merupakan orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya.

Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulis Ibnu Al Haitham telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antara lain Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Ibnu Al Haitham juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ibnu Al Haitham mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.

Menurut penelitian yang telah dilakukan Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya ini, beliau juga telah berhasil menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika ‘Bapak Optik’ dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.

Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.

Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.

Ibnu Al Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar, dan dari situ ditemukanlah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para ilmuwan di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab Al-Manazhir, tidak diketahui lagi keberadaannya, sejak dilaporkan hilang pada peristiwa pembakaran perpustakaan Iskandariah, Mesir. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.

Yang lebih menakjubkan ialah bahwa Ibnu Al Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan yang bernama Trricella yang mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menemukan perwujudan tarikan gaya gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Al Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori Haitham telah membawa kepada penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.

Filsafat

Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logik, metafisik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Ia turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan dari matematik, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami penurunan.

Kamera Obscura

Kamera Obscura Karya Ibnu Al Haitham
Kamera Obscura Karya Ibnu Al Haitham
Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni qamara? Istilah itu muncul berkat kerja keras Al Haitham. Pada akhir abad ke-10 Masehi, Al Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya Al Haitham yang paling terkenal. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukannya bersama rekannya Kamaluddin Al Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika kedua sahabat ini mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini banyak digunakan oleh peradaban umat manusia. Teori yang dipecahkan oleh Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan muslim, Abu Ali Al Hasan Ibnu Al Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Dunia mengenal Ibnu Al Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab Al Manazir (Buku Optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan muslim legendaris itu lalu menyusun Al Bayt Al Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Ibnu Al Haitham (Alhazen)
Ibnu Al Haitham (Alhazen)

Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn Al-Haytham: First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab Al Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.

Istilah kamera obscura yang ditemukan Al Haitham pun pada akhirnya diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 Masehi. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran Al Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).

Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera obscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan Al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan Al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.

Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan Al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai Al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.

Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan filsafat sangat banyak. Kerana itulah Ibnu Haitham dikenali sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan hingga saat ini.

Walau bagaimanapun sebagian karyanya lagi telah “dicuri” oleh ilmuwan barat tanpa memberikan penghargaan yang patut kepada Beliau. Tapi sesungguhnya, dunia barat patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi kegelapan.

Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.

Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi terbelenggu oleh pemikiran filsafat Yunani.

Karya Buku Ibnu Al Haitham

Ibnu Haitham membuktikan pandangannya apabila beliau begitu bergairah dalam mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Sehingga kini beliau berhasil menulis banyak buku dan makalah. Di antara buku hasil karya Ibnu Al Haitham antara lain sebagai berikut:

  1. Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik penganalisaannya;
  2. Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri;
  3. Kitab Tahlil ai’masa^il al ‘Adadiyah tentang algebra;
  4. Maqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau;
  5. M.aqalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak dan
  6. Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.
Facebook Comments

About Hartanto

Check Also

pengertian apa ransomware wannacry

Apa Itu WannaCRY Ransomware?

SIARAN PERS KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NO. 55/HM/KOMINFO/05/2017 Tentang Himbauan Agar Segera Melakukan Tindakan Pencegahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *